Batam -Sinarnusantaratoday.com Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PSI, Justin Adrian, menilai sistem pendidikan di Jakarta belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan dunia industri, meskipun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mengklaim berbagai capaian di sektor pendidikan pada momentum HUT ke-499 Jakarta. "Jadi link and match antara arah pendidikan kita dengan jenis industri yang masih akan berkembang di Jakarta ini sampai sekarang belum ada link and match-nya," ujar Justin saat dihubungi Kompas.com melalui sambungan telepon, Senin (22/6/2026).
Ketidaksesuaian antara arah pendidikan dan kebutuhan industri dinilai berpotensi melahirkan lulusan yang tidak terserap optimal di pasar kerja. Baca juga: DPRD Bongkar Masalah Pendidikan Jakarta, Guru Bersertifikat di Bawah 50 Persen Hal itu menjadi tantangan serius bagi Jakarta yang semakin bergerak ke arah kota berbasis jasa dan teknologi.
Justin juga menyoroti masih terbatasnya jumlah guru bersertifikasi di sekolah negeri di Jakarta. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat berdampak pada kualitas pembelajaran di tingkat dasar hingga menengah.
“Untuk pendidikan sampai dengan sekarang di seluruh sekolah negeri yang ada di DKI Jakarta itu guru yang memiliki sertifikasi dari Kementerian Pendidikan itu di bawah 50 persen,” kata Justin. Selain itu, penguatan pendidikan vokasi seperti SMK perlu benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan industri yang ada dan akan berkembang di Jakarta.
Baca juga: Pramono Klaim Transjabodetabek Meluas, Pengamat: Warga Tetap Pakai Mobil jika Bus Kurang Tanpa penyesuaian tersebut, dikhawatirkan lulusan SMK hanya akan menambah angka pengangguran. “Kalau kita terus-menerus tidak ada link and match antara SMK otomotif dengan pabrik otomotif yang ada di DKI Jakarta, ini malah berpotensi menimbulkan pengangguran karena terus menghasilkan lulusan yang sama,” ujarnya.
Didesak Setop MBG karena APBN, BGN Pilih Tegak Lurus ke Presiden Keajaiban Iran di Tengah Ketidakadilan Artikel Kompas.id Justin juga menyoroti masih terbatasnya jumlah guru bersertifikasi di sekolah negeri di Jakarta. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat berdampak pada kualitas pembelajaran di tingkat dasar hingga menengah. Powered by VidCrunch “Untuk pendidikan sampai dengan sekarang di seluruh sekolah negeri yang ada di DKI Jakarta itu guru yang memiliki sertifikasi dari Kementerian Pendidikan itu di bawah 50 persen,” kata Justin. Selain itu, penguatan pendidikan vokasi seperti SMK perlu benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan industri yang ada dan akan berkembang di Jakarta. Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+ Baca juga: Pramono Klaim Transjabodetabek Meluas, Pengamat: Warga Tetap Pakai Mobil jika Bus Kurang Tanpa penyesuaian tersebut, dikhawatirkan lulusan SMK hanya akan menambah angka pengangguran. “Kalau kita terus-menerus tidak ada link and match antara SMK otomotif dengan pabrik otomotif yang ada di DKI Jakarta, ini malah berpotensi menimbulkan pengangguran karena terus menghasilkan lulusan yang sama,” ujarnya. Menurut Justin, kebijakan pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada peningkatan jumlah sekolah atau program pendidikan gratis, tetapi juga harus memastikan adanya keterhubungan nyata dengan dunia kerja. “Jangan cuma meningkatkan kuantitas lulusan, tapi juga harus linear dengan penyerapan industri,” kata Justin. Justin juga menyoroti pentingnya efisiensi anggaran pendidikan di DKI Jakarta.
dialihkan untuk memperluas akses pendidikan, termasuk kemungkinan pembiayaan pendidikan gratis hingga perguruan tinggi. “Dengan penggunaan anggaran yang efisien, kita bisa memastikan setiap keluarga minimal satu anak bisa disekolahkan gratis sampai kuliah,” ujarnya. Sebelumnya, dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Jakarta di Silang Selatan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Senin (22/6/2026), Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memaparkan sejumlah capaian di sektor pendidikan. Pramono menyebut berbagai program seperti KJP Plus untuk 707.477 pelajar, KJMU untuk 15.825 mahasiswa, serta program pemutihan ijazah sebagai bagian dari perluasan akses pendidikan di Jakarta.
Namun, menurut Justin, berbagai program tersebut belum cukup jika tidak diikuti dengan pembenahan mendasar pada kualitas dan arah pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan industri.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang.RED
